gambar ibu

Puisi Ibu Tersayang, Kumpulan Puisi Tentang Ibu

Puisi Ibu – Pembaca yang setia, secara khusus kami menyajikan contoh puisi Ibu, puisi yang bisa dipersembahkan untuk Ibu tercinta. Ibu adalah perempuan yang wajib kita muliakan. Salah besar jika kita merasa pacar lebis menyayangi kita, salah besar jika kita berpikir pasangan yang selalu ada untuk kita. Jika berpikir seperti itu, ingat kembali Ibu yang tidak ada waktu untuk kita atau kita yang menutup waktu untuk Ibu menyayangi?

Ibu itu perempuan satu-satunya yang tahu semua kebutuhan anaknya, yang selalu mengerti keinginan anakanya, yang selalu siap berkorban demi anaknya. Bahkan saking mulianya seorang Ibu, disebutkan dalam hadits bahwa orang yang harus kita hormati adalah Ibu dengan jumlah tiga kali, baru setelah itu Ayah yang harus dihormati. Dalam sebuah hadits juga disebutkan bahwa surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu.

Salah satu kunci kebahagiaan dan kesuksesan hidup pun terletak pada Ibu, bahagiakan Ibumu jika ingin meraih kesuksesan hidup, karena doa Ibu lebih mujarab dari obat dan cara apapun.

Sekedar kata-kata romantis dalam puisi tentunya belum mampu membalas jasa Ibu yang sudah berjuang melahirkan, dan membesarkan kita. Tapi setidaknya itu merupakan salah satu cara untuk kta menunjukkan bahwa kita snagat menyayangi Ibu.

Baca Juga : Kumpulan Puisi Tentang Cinta

Kami juga menyediakan puisi terkhusu untuk kalian yang mungkin saat ini sedang berada di perantauan dan jauh dari sosok Ibu. Nah, berikut kami berikan beberapa contoh puisi tentang Ibu.

Puisi untuk Ibu Tercinta

gamabr ibu, ibu tersayang

gambar via alif.com

Mama

(Deka Tarasia, 2018)

Mama
Kau tahu? kau wanita tak terkalahkan
Cantikmu tak dapat ku deskripsikan
Perjuanganmu yang tak bisa kubalaskan
Mama kau mengajarkanku untuk hebat
Dan aku kuat karena mama lebih kuat
Kau wanita tersabar dalam sejarah hidupku
Mengajariku makna hidup sebenarnya

Mama
Kemarin aku merindukanmu
Hari tetap seperti itu
Dan selamanya aku mencintaimu

Ma..

(-Ra, 2018)

Ma.. Aku bukan lagi Pria kecil
yang cengeng…
Sekarang aku sudah bisa
melangkah sendiri,
Ma… jika langkah ku belum berhasil,
izinkan aku pulang dan mencium surgaku
di kakimu..

Pincuk

Untuk ibuku tercinta

(Ajis Sukriadi, 2016)

Kau yang duduk termangu
Dan tangan kerasmu memutari nasib dengan daun-daun layu dan
sebatang harapan yang kau tuangkan pada setiap pincuk.
Begitu mungil dan berisi doanya yang saban waktu
terus dikumandangkan dengan pikiran yang digadaikan zaman.

Tekad bukan persoalan uang tapi keyakinan
Bahwa tuhan maha diatas segalanya
Menjadi kunci bagi setiap doa-doamu

Aku memahami rintik doamu
ketika kesabaranmu mengudara menjadi asap yang mengawang di tanah gersang.
Kesabaran adalah jalan setiap keresahan
Dan keyakinan adalah jembatan menuju tempatmu kembali.

Bersenandunglah dengan doa dalam setiap perjalanan.
Bawalah aku pada musim dingin
Agar aku bisa memahami rintik hujan yang turun dari atas genting
Membasahi lantai keyakinanmu
Untuk kutampung dalam nampan.
Bawalah aku pada musim peralihan
Untuk memahami langkah yang berganti memutari doamu
Bawalah aku pada musim panas
Untuk menjadi paying doamu
Agar kehidmatanmu terus memincuk doamu
Untuk tuhan.

Aku teringat ucapanmu menjelang malam
Dengan mata sembab dan beban pikiran yang kau gadekan
Tapi dengan begitu lembut kau bernyanyi tentang tekad dan harapan
Untuk hari esok yang lebih baik.
Kau menyimpang segala keresahan dalam senyum.

Dan tengah malam
Kau meniupkan doa pada ubun-ubun
Mengendap pada hatiku yang merangkak.

Baca Juga: 11+ Puisi Pendidikan

Puisi Pengorbanan Seorang Ibu

gambar ibu, pengorbanan ibu

gambar via inspiradata.com

Kasih Sayang Ibu

(Ruhama, 2006)

Ibu
Keluh kesah kini mengepung hidupku
melepas ribuan penderitaan ke jantungku
di tempat liar aku runtuh dan terluka
dihiasi rasa bermuram durja

Oh Ibu
kau bangkitkan dirimu dengan semangatmu
kau cakarawala yang membuka jalanku
di situ terhati lagu yang kau senandungkan
melindungiku dari percikan api kedengkian

Oh Ibu
kau bagaikan belantara yang hijau
yang tergelar lembut bagiku
melepas lelah dan nestapa
beralaskan sayang yang mesra

Ibu
kaulah mentari dan rembulan
yang mengawal perjalananku
di saat ku mencari jejak
surga di bawah telapak kakimu

Penantang Matahari

(Layli Nur Rohmah, 2018)

Panas terik matahari menusuk tulang, mengering
kerontangkan tenggorokan, mengguyur badan,
melelehkan peluh asam
Tak peduli tubuh itu bongkok dan bengkok
Matahari tetap menyinari meski makhluk bumi tak menyukai

Meski begitu, Ia tegap tetap berdiri
melawan teriknya matahari
memanggul beban berat
Memikul tanggung jawab
Untuk memperjuangkan hidup yang lebih bermartabat
Untuk jiwa yang terus lapar
Untuk raga yang terus haus
Dialah sang penantang matahari

Ibu, Malaikatku

(Yasmin, 2019)

Ibu…
Disini kutulis cerita tentangmu
Nafas yang tak pernah terjerat dusta
Tekad yang tak pernah koyak oleh masa
Seberapapun sakitnya kau tetap penuh cinta

Ibu…
Tanpa lelah kau layani kami
Dengan segenap rasa bangga di hati
Tak terbesit sejenak fikiran lelahmu
Kau terus berjalan diantara duri-duri

Ibu…
Kaulah malaikatku
Penyembuh luka dalam kepedihan

Puisi untuk Ibu yang Sudah Tiada

Baca Juga: Kumpulan Puisi Motivasi Terbaik

Puisi Ibu Tersayang

gamabr ibu dan anak, ibu tersayang

gambar via islamictunes.com

PESAN DARI SURGA

(Wattini SU, 2017)

Malam tadi kau jelas dalam mimpiku
Malam tadi terasa jelas kudatang kepelukanmu
dan malam tadi, kusadar semua kini jauh dari dulu.
Hangatnya sudah berbeda, bahagianya sudah tidak lagi sama.
Mungkin ini yang dikata, “kasih ibu sepanjang masa”
Bahkan setelah kau pergi, kau masih menegur setiap salah kami
Ibu, semoga kau bahagia disana
Pesanmu telah sampai dari surga
Seperti pintamu, aku akan lebih sabar hadapi dunia
Walau kau tak disisiku, namun ku tau, cintamu
mengiringi setiap langkahku

Penghapus dahaga akan kasih sayang
Sampai kapanpun itu…

Tunggu Aku di Surga

(Ruhama, 2019)

Sosokmu mulai menghilang dari bayangan
Perlahan kau pergi dengan untai senyuman
Entah pertanda kau bahagia meninggalkan atau kau bahagia bertemu Tuhan
Yang pasti hati ini masih kelabu jika teringatkan
Bu… Pulanglah
Aku dan kakak masih butuh belaian kasih sayang
Siapa yang akan menyiapkan segala perlengkapan?

Bu… Jika Ibu enggan pulang
Setidaknya datanglah ke mimpiku
Beritahu aku bahwa Ibu sudah bahagia di sana
Suntikkan semangat padaku dan kakak
Untuk menghadapi kerasnya dunia

Bu… Jika kau memang bahagia di sana
Datanglah ke mimpiku
Untuk sekadar mendongeng akan kehidupan barumu
Rumah barumu, kendaraan barumu, semua yang kau punya di sana
Hanya doa yang terus kupanjatkan jika teringat sosokmu
Selalu meminta pada Tuhan agar kita segera bertemu
Tunggu aku di surga, Bu
Kita bina kebersamaan lagi di kehidupan yang baru
Bu… Tenang di sana
Tunggu aku di surga

Puisi Ibu Sedih Menyentuh Hati

puisi ibu, ibu, ibu dan anak

gambar via unsplash.com

Untukmu Ibu

(Cici Putri Oktavia, 2017)

Kulangkahkan kaki ku tinggalkan rumah
kuseberangi pulang
Entah kemana arah tujuan aku gak tau
Mencari ilmu mencari motivasi mencari jati diri
Semua itu tak mudah bahkan tak nyaman
Rasa malu rasa sakit rasa perih terus mendekati
Itu semua hanya bisa kusimpan dalam sanubari
Ibu… Bukan aku lupa kampung halaman
Namun sayapku belum mampu untuk terbang
Ku janji padamu bila sayap ku telah kokoh
Kuakan terbang menemui mu ibu
Doaku selalu untukmu

Dari Anakmu di Tanah Rantau

(Ruhama, 2019)

Ma.. Bagaimana kabar keluarga di sana?
Rasanya baru beberapa hari yang lalu kita bersua lewat udara
Tapi suara merdumu mengundang rinduku
Meskipun pembahasan kita tetaplah sama
Bertukar kabar, bertanya aktivitas, dan sesekali bercanda

Umma…
Sedang apa sekarang? Sudah makan?
Tak perlu khawatir dengan putrimu di sini
Aku bisa menjaga diri
Sakit hanya sesekali saja, itu pun karena lelah ringan
yang tak sebanding dengan lelahnya Umma di sana

Oh ya.. Ma
Saat kita bersua lewat udara di waktu selanjutnya
Aku ingin sedikit bercerita
Bukan untuk mengeluh, tapi ingin meminta Umma untuk menguatkan
Hanya ingin meminta agar Umma mengajariku
Bagaimana menjadi perempuan yang tangguh dan ikhlas
Walaupun aku tau
Jawaban terbaik dari Umma, “Sabar ya Dek”
Tapi kalimat itu pengaruhnya luar biasa bagiku

Ma.. Maaf ya, jika bulan ini telat mengabari
Tapi aku di sini baik-baik saja
Umma juga di sana sehat-sehat ya
Doakan selalu putrimu
di sini Umma pun selalu hadir dalam setiap sujudku

Puisi Ibu Singkat

ibuk, ibu, ibu nangis

gambar via dream.com

Pengorbanan Jiwa

(Ruhama, 2018)

“Dek.. Maaf ya Nak, tahun ini pulangnya ditunda
Kalimat yang keluar dari bibir Umma
Aku tak tau bagaimana mimik wajahnya saat itu
Terdengar parau suaranya
Aku tahu Ia sedang menahan tangis yang akan tumpah
Atau bisa saja saat itu air matanya sudah tumpah

“Tak apa, Ma. Masih ada tahun depan, semoga rezeki kita lancar”
Itu jawabanku dengan nada yang manis
Padahal dalam hati aku berontak, “Tak memikirkan Aku yang rindu?”
Beberapa menit hening tanpa kata
“Maa..?” Kucoba memastikan bahwa Umma masih di sana
“Umma benar-benar rindu Nak”
Terdengar suara di sana bercampur dengan isak tangis
Rabbi.. Salah besar pemberontakanku tadi
Umma, rinduku tak sebanding dengan rindu yang Kau tahan
Maafkan Aku yang membuatmu akhirnya menangis

Pengorbanan rasa yang kau pendam
Berpura-pura kuat agar terkesan tegar
Walau akhirnya kau curahkan jua
Ajarkan aku cara agar mampu sekuat dirimu, Umma
“Sudahlah Ma, seka air matamu, putrimu hanya sedang merantau” Ucapku berusaha tegar.

Itulah tadi beberapa contoh kumpulan puisi Ibu. Melalui puisi di atas semoga pembaca merasa terbantu juga untuk mengungkapkan rasa sayang pada Ibu lewat sebuah karya berbentuk puisi.

Jangan pernah menyakiti Ibu, karena ridhonya Ibu termasuk juga Ridhonya Allah, dan murkanya Ibu termasuk juga murkanya Allah. Selama apa yang disampaikan Ibu kita bermanfaat dan hal yang baik, maka laksanakan.
Jika merasa tulisan ini bermanfaat, silakan dishare. terima kasih.

Kepoin Yuks