Satu Malam Membersihkan Rumah Budi Doremi

Kita sudah sering kali mendengar dari sejak kecil, bahwa rumah adalah sebuah kebutuhan yang sifatnya premier, artinya kebutuhan utama. Seseorang disebut memiliki kasta yang tinggi di masyarakat tatkala ia memiliki rumah yang bagus, rapih dan teratur.

Banyak diantara mereka yang memiliki rumah yang nampak bagus, akan tetapi merasa kesulitan untuk mengurus dan merawatnya. Apalagi bagi mereka yang tidak memiliki “Asisten Rumah Tangga”.

Hal – hal semacam itu yang terjadi pada salah seorang penyanyi tanah air, yaitu Budi Doremi. Ia tidak memiliki asisten rumah tangga untuk membersihkan rumah, sedangkan sang istri harus terus menemani rekaman di jakarta.

Suatu malam, sekitar jam 9 handphone teman saya berbunyi, saya persis di depan dimana ia sedang duduk. Merekapun mengobrol seperti biasanya.

Dari pembicaraan telephon yang mereka lakukan, ternyata budi minta bantuan kami untuk membersihkan dan mengrapihkan rumah. Selanjutnya, ia bercerita bahwa ke esokan harinya akan ada tamu yang datang ke rumah budi. Jadi mau tidak mau, ya harus bersedia tuturnya.

Namun, sebelum saya meneruskan pengalaman membersihkan rumah Budi Doremi, saya ingin sedikit cerita kenapa saya bisa mengenalnya.

Bandung

membersihkan rumah

Foto via google.com

Bandung merupakan tempat perantauan pertama pasca masa SMA, tempat dimana banyak cerita dan pengalaman yang akan tersusun rapih dalam kenangan.

Perantauan saya ke bandung tidaklah untuk bersekolah ataupun berwisata, ya hanya ingin pergi saja meninggalkan kota kelahiran.

Pasca SMA, saya sangat terobsesi sekali untuk masuk jurusan agronomi dan holtikultur Institut Pertanian Bogor. sayangnya pada waktu itu saya tidak lolos seleksi, padahal 3 bulan lebih saya mempersiapkan segalanya. Kecewa sekali memang, ditambah kedua orang tua yang tak membiarkan pergi ke Malang untuk melanjutkan study disana.

Dengan tidak mendapatkan restu orang tua untuk pergi ke malang pada waktu itu, jujur saya merasa kecewa. Rencananya di malang itu saya akan kuliah di UMM (Universitas Muhammadiyah Malang). Pokoknya sudah menyusun planing, mau seperti apa nanntinya di malang.

Berselang beberapa hari, ibu tidak memberikan saya izin untuk berangkat. Dengan beberapa pertimbangannya juga waktu itu.

Saya cukup kebingungan mau ngampus dimana. eh, ibu taunya malah nyuruh pesantren di DT. Berangkatlah saya ke bandung mencari informasi.

Di hari selanjutnya, saya memberikan kabar kepada ibu, bahwa saya tidak ingin masuk pesantren. Dengan alasan waktu itu, mending pesantrenya pasca kuliah saja.

Setelah mengutarakan ke tidak inginan untuk masuk pesantren, saya meminta ke pada ibu, ingin tinggal di bandung. Untuk belajar mempersiapkan ujian masuk kampus di tahun berikutnya.

Rutan 23

membersihkan rumah

Foto via google.com

“Satu tahun adalah waktu yang lama, jika diisi dengan penyesalan dan kesedihan, tapi sebaliknya, satu tahun akan terasa cepat berlalu apabila diisi dengan rasa syukur”

Perasaan tidak betah kerap muncul di awal kepindahan. Seiring berjalannya waktu, aku mulai terbiasa dengan kehidupan serba sendiri.

Teman pun mulai banyak, sebagian besar teman saya di bandung adalah mahasiswa. Sisanya pekerja, supir angkot, tukang dagang, tukang reparasi hp, musisi dan pengangguran. lengkap pokoknya mah.

Di sebuah mesjid dekat kostan, saya bertemu dengan seorang mahasiswa asal timblahan riau. kami sempat berbincang, bertukaran pin BBM dan bercerita latar belakang masing – masing.

Di malam harinya ia menghubungi saya, menawarkan sebuah kostan murah di jalan sapujagat 23. Pikir saya lumayan, bisa ngirit dan nabung untuk kuliah.

Ceritanya saya tertarik dengan tawaran anak riau. ketika saya datang ke TKP, begitu kaget, tempatnya kaya rumah di film “kuntilanak 3”. Jika kalian pernah nonton film itu, tempanya begitu kumuh dan gelap.

Bangunannya terdiri dari tiga lantai dengan kamar lebih dari 50 kamar, lantai pertama mayoritas di isi oleh karyawan, lantai dua mahasiswa, sedangkan lantai 3 di peruntukan untuk mereka yang sudah berumah tangga.

Setelah saya pindah, dikemudian hari saya baru tahu kostan sapujagat 23 ini pada malam hari rame banget, sedang untuk siang kebalikannya.

Pada malam hari, lantai dua  rame terus sampai subuh. Seringkali banyak orang luar yang datang berkunjung, hanya untuk sekedar bernyanyi – nyanyi dan mengobrol santai.

Tapi Anehnya di lantai 3, adem ayem tidak pernah merasa terganggu, atau mungkin mereka bisa jadi memiliki kegiatan lain.

Lain lantai lain lagi kegiatannya. Dilantai 1 sering terjadi kesurupan, hobi penghuninya main game. harusnya penghuni lantai dua yang kesurupan, sebab hampir setiap malam mereka membuat kebisingan. Atau barangkali Jinnya takut sama mereka.

Penghuni lantai dua kostan  lebih suka memanggil nama kostan dengan Rutan 23. Karena bagi mereka lebih cocok dijadikan penjara di bandingkan menjadi kostan.

Lahirnya Penyanyi

“Jangan pernah lihat luarnya saja, karena masih ada dalam setelah luar”

Rutan 23 tiga ini terbilang fenomenal, banyak melahirkan musisi, terutama musisi jalanan (pengamen).

Pernahkah kalian mengenal group band mocca.

Mocca Band

Group band mocca ternyata pernah tinggal di rutan 23. Merintis karir dari tempat kebanggaan kami bersama. Tentunya aku paham betul bagaimana perjuangan mereka untuk meraih kesuksesan.

kalo tidak tau, ini dia :

membersihkan rumah

foto via google.com

Firman Idol

Bukan hanya mocca band yang pernah tinggal di rutan 23, tapi ada yang lainnya seperti Firman yang menyanyikan lagu kehilangan. itutuh yang ikut ajang pencarian bakat di salah satu stasiun televisi nasional.

ini dia firman :

membersihkan rumah

foto via google.com

 

Bagaimana keren – keren kan, saya juga di awal pernah berharap menjadi seperti mereka. Tapi sadar diri, nyanyi tidak bisa, memainkan alat musik juga tidak bisa.

Budi Doremi

Penyanyi kebanggaan Rutan 23 selanjutnya Ialah Budi Doremi. Itu yang lagu nya “Do doakan aku, Re relakan aku pergi”. Pokonya begitu  lah liriknya.

membersihkan rumah

foto via google.com

Selain mereka bertiga masih banyak band – band lokal, apalagi penyanyi jalanan yang di lahirkan oleh rutan 23. Ini menjadi kebanggaan kami bersama, yang pernah tinggal di Rutan 23. Apalagi ia seringkali masih mengunjungi rutan 23, hanya untuk sekedar bermain dan bercengkrama dengan kawan – kawan lamanya.

Banjir

membersihkan rumah

Ilustrasi : Foto via google.com

Kejadian yang sempat menjadi trending topic di rutan 23 yaitu terjadinya banjir besar kiriman dari Dago. kejadian ini membuat penghuni lantai satu harus mengelus dada. Mengikhlaskan kamar kesayangannya di penuhi lumpur, sebagian barang-barang bahkan menghilang.

Kejadian yang terjadi begitu cepat. Sore itu, hujan begitu deras. Mulanya kami tidak merasa khwatir, akan tetapi berselang berapa waktu seorang teman yang tinggal di Dago memberikan kabar bahwa motor tetangganya terbawa arus banjir.

Rutan 23 terletak di pinggir sungai, dengan kondisi lantai satu sedikit berada di bawah sungai. sehingga, saat banjir datang dan sungai meluap, lantai satu habis tersapu air. Kami hanya bisa menonton dan menikmati pertunjukan yang tak biasa terjadi. semisal, motor yang terbawa banjir, gas, jajanan warung dan lainnya.

Paling tidak, tontonan tersebut bisa mengobati hati kami, dan bisa lebih bersyukur.

Di daerah dago banyak yang kehilangan motor, warungnya hancur yang di akibatkan banjir tersebut. sedang kami palingan hanya perlu membersihkan kamar dari lumpur.

Sahabat Dari Malaysia

membersihkan rumah

Foto via google.com

Sahabat yang paling dekat dan setia selama menghuni rutan 23. Namanya Abdul Wahab bin Sunni, mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas ternama di Bandung. Ia lahir di Tawau, Sabah, Malaysia.

Sudah kuanggap seperti abang sendiri, ditambah kami pernah satu kamar kost. Hampir disetiap aktivitas kami selalu bersama.

Orang sebrang yang satu ini, pada mulanya begitu tertutup dan menjaga jarak. Seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat.

Apalagi ketika nasib tidak baik hinggap. kami semakin dekat, berbagi banyak hal, saling mengingatkan diantara kami.

Membersihkan Rumah Budi

membersihkan rumah

pexel.com

Seperti biasa Wahab dan saya selalu pergi bersama – sama di setiap kesempatan. baik hanya untuk bermain ataupun hanya sekedar mencari uang tambahan.

Begitupun pada kesempatan kali ini, kami mendapatkan tugas untuk membersihkan rumah budi dalam waktu semalam. Tentunya hal ini membuat kami berdua merasa senang, Sebab kami yakin betul, bahwa kami akan mendapatkan bayaran dari apa yang akan kami kerjakan.

Bukan hanya itu saja, kami bisa mengambil semua makanan yang ada di kulkas, tentu atas izin sang pemilik.

Mulai Bekerja

Pada saat kami sampai di TKP (Tempat Kejadian Perkara). Kami begitu kaget dengan kondisi rumah yang berantakan dan tak karuan. Ditambah budi memelihara dua anjing yang di biarkan berkeliaran bebas didalam rumah.

Hal tersebut tentu menambah beban pekerjaan yang akan kami kerjakan. Menyingkirkan hewan – hewan tentunya bukan hal yang mudah, apa lagi kami tidak memiliki pengalaman untuk menangani hal semacam ini. Kami tentu harus memutar otak untuk menyingkirkannya.

Hampir satu jam kami berusaha menyingkirkan mereka dari rumah, memasukanya ke kandang yang terdapat di belakang. Pekerjaan membersihkan rumah belum tersentuh sama sekali, padahal waktu sudah menunjukan setengah sebelas malam.

Bergegas mencari peralatan yang dibutuhkan secepat mungkin. Sebab makin malam, mata kami makin berat. Apalagi Wahab memiliki tugas kuliah yang harus dikerjakan secepatnya. Pencarian dimulai dengan sapu kemudian alat pel dan peralatan lainnya.

Saya sangat tertarik dengan isi rumah, terdiri dari dua lantai yang sebenarnya tidak terlalu besar. Lantai satu, ruang keluarga terdapat buku-buku yang berjejer seperti perpustakaan. Buku di lantai dua tidak kalah banyak dengan yang ada di ruang keluarga. Hal ini tentunya begitu menarik bagi orang seperti saya.

Sebagian orang sepertinya akan merasa setuju  jika mengerjakan sesuatu dimulai dengan pekerjaan paling mudah terlebih dahulu. Itulah yang kami lakukan, kami membersihkan ruangan yang kecil terlebih dahulu, membuat segalanya sesederhana mungkin.

Tidak Sesuai Target

Pada mulanya target untuk menyelesaikan semuanya adalah jam sebelas. Akan tetapi nyatanya jam satu pagi kami baru berhasil menyelesaikan pekerjaan.

Memang ada beberapa yang di luar perkiraan. Semisal hewan peliharaan berada di luar kandang, banyak terdapat makanan sisa yang tentunya harus kami bereskan juga.

Setelah dipastikan semuanya berhasil di bersihkan dan dirapikan, barulah kami bergegas plang.

Penutup

Membersihkan rumah budi adalah pengalaman yang sederhana namun berharga bagi saya. Sampai saat ini pengalaman tersebut kerap kali saya ceritakan kepada teman – teman. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat.

Show Comments

No Responses Yet

    Leave a Reply