Membaca Buku, Bukan Hanya Sekedar Hobi

buku bacaan

Hai, kali ini Aku ingin berbagi pengalaman mengenai buku bacaan. Kata orang, Aku ini suka membaca. Padahal sampai sekarang merasa belum bisa istiqomah untuk tetap membaca setiap hari.

Banyak pakar dan akademisi yang menyebutkan bahwa membaca dapat mendatangkan segudang manfaat. Apa saja sih manfaatnya? Nanti Kita akan bahas kalo sempat.

Khusus untuk tulisan ini, Aku hanya ingin berbagi pengalaman serta proses sampai Aku begitu suka membaca. Jangan pikir sudah suka membaca sejak lahir, waktu duduk di bangku SMA begitu tidak suka dengan buku, sampai kalo meminjam buku dari perpustakaan tidak pernah tamat.

Ceritanya dimulai dari sini, simak yu.

Perempuan di Belakang Kelas

Aku ingin memperkenalkan seseorang yang telah banyak menginspirasi masalah baca membaca, sebut saja Vi namanya. Temen sekelas sewaktu SMA yang hobi bacanya tidak wajar.

Mengapa disebut tidak wajar? Kerena hampir disetiap kesempatan selalu membawa buku kemanapun ia pergi.

Ia merupakan tipe manusia yang tak bermodal, semua buku bacaannya didapat dari perpustakaan Sekolah. Dalam waktu seminggu bisa menghabiskan tiga buku bacaan.

Jenis buku yang paling ia senangi adalah novel, bukan hanya manusia tak bermodal, ia juga termasuk manusia yang ekspresif. Jika sedang membaca, seringkali ketawa, senyum – senyum sendiri bahkan sampai nangis.

Waktu itu, Aku mulai penasaran dengan manusia satu ini, ditambah ia merupakan teman sebangku. Masih ingat jelas, sewaktu pelajaran matematika ia tidak ada di bangku, pas nengok ke belakang ternyata sedang asik membaca di meja paling belakang, sambil cekikikan.

Tidak lama kemudian, guru matematika kami menegur, dengan seketika muka si Vi berubah menjadi tegang. Laki – laki dalam hatiku langsung mendadak riang gembira.

Pukul setengah sebelas disela – sela istirahat, Aku tanyakan buku apa yang ia baca saat mata pelajaran matematika berlangsung, sebenernya hanya basa – basi. Kemudian Ia menceritkan panjang lebar, jujur Aku tidak tertarik dengan ceritanya, hanya untuk membuat ia senang saja.

Anehnya, judul buku itu terus menempel di ingatan sampai pulang sekolah. Esok harinya aku berniat untuk meminjam buku tersebut. Tapi sayang bukunya sudah kembali ke perpustakaan Sekolah.

Perpustakaan Sekolah

Perpustakaan sekolah kami begitu nyaman, bisa memberikan ketenangan dengan hadirnya wifi yang cepat. Tempat persembunyian sewaktu duduk di kelas satu.

Setelah kelas satu berlalu, tidak pernah lagi datang ke perpustakaan. Ada buku yang pernah dibaca dari perpustakaan dengan judul “Puzzle“. Sebuah novel yang berkisah tentang pembunuhan. Akan tetapi sampai sekarang tidak pernah tahu ujung ceritanya seperti apa.

Kelas tiga, Aku tidak pernah datang ke perpustakaan. Sedang untuk meminjan buku, tentu harus memiliki kartu anggota.

Tentunya sebuah keajaiban ketika Aku kembali ke perpustakaan, penasaran saja dengan buku yang di baca Vi, sampai cekikin sendiri di bangku belakang. Di perpustakaan buku itu tak pernah ku temukan.

Buku Bekas

Kotaku tidak memiliki toko buku yang besar, ditambah jika harus membeli buku baru, tentu akan sedikit menguras kantong. Uang saku buat beli cireng didepan sekolah akan berkurang, hal ini pastinya tidak pernah diharapkan.

Pemikiran sewaktu menjadi anak SMA lebih memikirkan yang sifatnya senang saja, tidak pernah rasanya memikirkan bacaan.

Aku seringkali mengantar ibu pergi ke pasar untuk berbelanja. Tidak sengaja saat di pasar menemukan tumpukan buku bekas yang dijual. Sementara ibu berbelanja, Aku mencari buku yang dibca Vi di kelas.

Ternyata buku tersebut tidak ada.

Tapi tidak di sangka saat mulai lupa dengan buku bacaan Vi, dua minggu kemudian di tempat yang sama, ku temukan buku bacaan Vi.

Mulai Membaca Buku

Kehadiran buku “Pocong Juga Pocoong” membuatku tenggelam dengannya. Game yang tadinya dijadikan kegiatan favorite disela – sela waktu kosong, lambat laun mulai ditinggalkan. Bukan dramatis, nyatanya buku yang tidak faedah tersebut membuat hidupku berubah.

Bab demi bab tidak terasa begitu mudah diselesaikan, selesai dengan cepat, seakan telah lama menjadi kutu buku. Padahal waktu itu, belum merasa menjadi kutu buku, baru merasa menjadi kutu kupret.

Akhirnya si “pocong” telah selesai dibereskan. Perasaan bangga memenuhi dada, semenjak lahir baru kali itu menamatkan bacaan. Padahal buku yang dibaca hanya 150 halaman, tapi tetap merasa bangga.

Semenjak itu, Aku berjanji pada diri sendiri akan mencari dan menyelesaikan buku bacaan lainnya.

Kuliah Umum

Rasanya merasa beruntung, pernah bersentuhan dengan buku. Tidak menyangka sama sekali akan suka membaca. buku yang dibaca selama SMA menjadi modal berharga ketika memasuki dunia kampus.

Tidak semua orang yang masuk kampus benar – benar menginginkan ilmu, kalau gelar sudah barang tentu yang mereka inginkan. Bisa jadi Aku seperti itu juga.

Memasuki dunia kampus, artinya memasuki kehidupan dunia baru. Tidak lagi seperti SMA semua terkesan tertata rapi. Sedang kampus memberikan keleluasaan dengan dalih “Mahasiswa itu sudah besar”.

Padahal pada nyatanya, banyak mahasiswa yang tidak bisa mengatur diri sendiri, serba keteteran dalam melakukan segala hal. Bahkan lebih parah, mereka tidak menyadari sedang menuntut ilmu, tanpa arah dan tujuan.

Apapun jika tidak memiliki arah dan tujuan, bisa saja menabrak. Bahkan, ketika salah arah tidak akan menyadarinya.

Hal yang paling berkesan saat pertama kali memasuki dunia kampus adalah wejangan dari seorang Professor.

Dalam kuliah umumnya beliau berkata, “Setiap orang sukses itu suka membaca buku, sebutkan orang sukses yang tidak pernah membaca”.

Tambahnya lagi “Anda wajib membaca minimal 88 hal per hari jika ingin sukses”.

Aku cukup terkesan dengan perkataan beliau. Sampai sekarang, ketika merasa enggan untuk membaca, berusaha mengingat perkataan beliau. Bisa jadi, teman – teman seangkatan sudah lupa dengan perkataan beliau, tapi tidak denganku.

Toko Buku

Ruang kelas selalu memberi rasa kecewa, mereka yang mendapatkan penghargaan bukanlah mereka yang jelas – jelas berusaha sepenuh hati. Tapi mereka yang memberikan penghargaan terbaik kepada sang pengajar. Muak rasanya waktu itu, sebagian besar dari kami merasa gundah ketika dosen menggoreskan tinta di kertas yang tidak sesuai dengan harapan.

Paling tidak buku bisa menjadi penawar, saat kelas mengecewakan.

Terlebih kota itu menawarkan buku yang menakjubkan. Hampir di setiap bulan, Aku sisihkan uang jajan untuk membeli buku.

Bahkan tidak jarang tidak memiliki uang jajan. Sebab habis untuk membeli buku.

Udah dulu ya, ngantuk.

Magetan, 03 Agustus 2021-