Pengalaman Magang di Telkom Tasikmalaya

Magang di Telkom – Hampir disetiap Universitas atau jurusan pasti ada yang namanya magang. Kegiatan ini menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap mahasiswa, sebab telah menjadi tanggungan sks.

Dalam tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman seputar proses magang yang telah dilalui sekitar satu tahun yang lalu, mulai dari mengajukan rencana magang ke pihak perusahaan, waancara sampai bisa approve.

Tentu kegiatan magang bagi sebagian mahasiswa menjadi sebuah beban, apalagi jika harus mencari tempat atau perusahaan sendiri, ditambah tidak memiliki pengalaman serta relasi dengan pihak atau orang-orang diperusahaan yang ingin kita jadikan sebagai tempat magang.

Saya mulai magang di bulan oktober 2017, meskipun pengajuan telah jauh-jauh hari saya lakukan, mungkin sekitar enam bulan sebelumnya saya telah memasukan persyaratan atau data administrasi ke perusahaan.

Berhubung waktu itu masih ada jadwal kuliah yang lumayan padet, akhirnya saya minta pending dulu ke perusahaan, bahawa magang saya dipajukan.

Pihak perusahaan pun menyetujui, karena mememag diwaktu yang sama ada beberapa mahasiswa dari Politeknik Negeri Bandung yang sedang melaksanakan magang juga.

Bingung Memilih Tempat Magang

Memasuki semester 5 (lima) saya mulai mencari-cari informasi mengenai magang atau kerja praktik, temasuk tempat atau perusahaannya.

Waktu itu lumayan pusing juga, saya pikir harus magang dimana.

Baru setelah beberapa waktu saya mulai kepikiran untuk meminta bantuan seorang teman yang sudah bekerja diperusahaan multi nasional di Jakarta.

Setelah dibeberapa kesempatan saya membicarakannya, ia memberikan saran supaya saya memasukan atau melamar untuk magang di Soekarno-Hatta atau di Kemenkeu.

Namun saya pikir, kerjaan disana ngapain, sedang saya adalah seorang mahasiswa Teknik Informatika. Ada beberapa pertanyaan yang terus saya tanyakan ke diri sendiri, apakah kerjaan selama magang akan sesuai dengan keilmuan yang dipelajari di kampus, seperti coding, testing, merancang sebuah aplikasi dan lain sebagainnya.

Kemudian selain itu, yang menjadi pertimbangan adalah tempat yang lumayan jauh. Sedangkan di waktu bersaaman saya masih harus mengulang mata kuliah untuk memperbaiki nilai.

Entah mengapa dibeberapa hari kemudian saya kepikiran kenapa gak magang di Telkom, secara akses lebih dekat dan bisa sambil kuliah juga.

Wawancara dan Tugas Perusahaan

Setelah beberapa waktu merenung, akhirnya saya memutuskan untuk coba mengajukan kerja praktik atau magang ke Telkom yang ditujukan ke bagian HR

Selang beberapa hari saya mendapatkan informasi bahwa harus keperusahaan dengan membawa persyaratan. Pada waktu itu langsung bertemu dengan kepala HR nya.

Dalam kondisi seperti ini, ilmu dan pengalaman dalam berorganisasi ternya sangat membantu sekali, dimana saya bisa lebih tenang dan masa bodo mengenai hasil akhir, yang terpenting tentu doa dengan ikhtiarnya.

Saat memasuki ruangan, langsung dipersilahkan untuk duduk. Tapi tidak lama kemudian sang HR membrendel saya dengan banyak pertanyaan.

Pertanyaan yang dilontarkan pun terkesan menguji kemampuan kita.

Selepas banyak pertanyaan yang dilontarkan sang HR, berikutnya beliau malah memberikan tuagas rumah atau PR, dan jika berhasil mengerjakannya saya boleh magang di Telkom ungkapnya.

Akan tetapi yang sampai saat ini menjadi pertanyaan, sang HR memberikan saya tugas untuk membuat desain masjid Telkom Taskmalaya.

Padahal waktu itu, saya berusaha menjelaskan itu bukan keahlian saya. “Seharusnya bapak menyuruh anak sipil atau arsitek untuk mengerjakannya” ungkap saya kepada beliau.

Tapi tetep saja si bapak kekeh menyuruh saya melakukan itu, akhirnya saya ngalah, lagian yang butuh kan saya juga bukan si bapaknya.

Meskipuns sedikit kesal, akhir hal tersebut menjadi pengalaman yang unik.

Membuat RAB dan Desain Masjid

Ini dia akhirnya entah dengan ikhlas atau terpaksa saya kerjakan, pertama yang saya lakukan adalah mencari orang atau teman yang pinter desain sperti sketchup atau auto cad, dan kebetulan banyak temen dari teknik sipil yang bisa diminta bantuan. (Terimakasih ya telah membantu dengan sukarela)

Setelah pembautan desain beres, selanjutnya saya dibingungkan dengan RAB (Rancangan Anggaran Biaya). Lagi dan lagi berbekal pengalaman dari organisasi, saya membuatnya sebisa mungkin saja, yang lebih tepat sih asal-asalan.

Tapi jangan pikir asal-asalan saya sembarangan ya, seasal-asalannya saya masih terlihat atau memiliki kesan premium gitu (Sombong amat ckckk, maafkan aku yang sombong ini).

Tepat pada hari jumat, saya berangkat keperusahaan dengan tergesa-gesa (sifat alamaih yang masih terjadi sampai sekarang).

Sesampainya di perusahaan, orangnya tidak ada entah kemana, menghilang tak ada kabar. Kata satpam sedang jaulah, lebih tepatnya jalan-jalan.

Akhirnya harus batal pertemuan di waktu itu, padahal saya telah merelakan waktu pagi dan siang untuk bertemu dengan si bapak.

Hari senin yang indah, baru saya bisa bertememu dengan beliau, intinya saya meminta kejelasan apakah saya bisa magang di Telkom atau tidak waktu itu.

Beliau menjawab bisa, katanya mau kapan mulai magangnya.

Waktu itu perasaan saya biasa saja, alias lurus atau flat. Sebab saya amat sadar jika saya magang, waktu untuk main dan tidur akan sedikit berkurang haha.

Kalau bisa sih saya mau minta sama pihak kampus kegiatan magangnya dihapuskan saja, diganti kek dengan kegiatan apa. Kegiatan liburan gitu, kayanya lebih setuju wkwkk.

Saya mau serius lagi nih gaess.

Ini tulisan sebenarnya kurang jelas ya, pada bagian atas terliahat lebih formal, semakin bawah ternyata semakin kacau balau, maaf ya.

Sekiranya Magang Mengganggu Main Tinggalkan Magang!

Sebenarnya sedikit sesat atau bahkan pantes juga jika dikatakan sesat.

Kami memiliki kata-kata bijak, atau entah itu kata-kata goblok semacam ini.

“Sekiranya kuliah mengganggu main tinggalkan saja”

“Sekiranya tugas membuatmu stress tinggal saja”

“Sekiranya main bisa membuatmu bahagia, mainlah”

dan lain sebagainya.

Tepat pada hari senin, seharusnya saya sudah mulai magang, tapi teman satu geng ngajak main seminggu ke jogja, dan akhirnya saya berdalih ke HR perusahaan, saya magangnya mulai mnggu depan saja, sebab minggu ini mau menemui keluarga di jogja.

Akhirnya bapak HR nya mengijinkan dengan syarat-syarat tertentu.

Hari Pertama Magang di Telkom

magang di telkom

kalau malam pertama nikah enak kayanya, ini hari pertama magang. Saya berangkat dengan sempoyongan, dengan rasa males, sebab harus bangun pagi. padahal biasanya bangun jam sembilan sebelum ngampus.

Tapi sadar diri semales-malesnya saya tidak pernah meninggalkan kewajiban, termasuk berangkat magang.

Sesampai di kantor saya salah masuk dan menemui orang, selang beberapa kemudian mengadu ke HR, dan dimarah-marahin.

Kebetulan waktu itu saya ditempatkan di unit CCAN WAN Fulfilment & Assurance.

Alhamdulillah, saya mendapatkan pembimbing yang baik dan penuh dengan perhatian serta peduli dengan pendidikan.

Kita saling bercerita dan bertukar gagasan pada waktu itu, pokonya waktu tidak terasa, saya pun menemukan bapak kedua saat magang di Telkom.

Rekap Data Gangguan Data yang Kurang Efisien

Selama magang di Telkom, hampir setiap harinya saya bersentuhan dengan data, baik itu data gangguan ataupun data pelanggan.

Pada waktu itu saya menemukan kekurangan di masalh rekap data gangguan.

Jadi data gangguan dari sistem yang ada harus di kelompokan ke dalam beberapa variabel, semisal gangguannya jenis apa, kemudian jalur data yang digunakan masih menggunakan apa.

Semua hal tersebut dilakukan menggunakan microsoft excel.

Kemudian saya berinisiatif untuk membuat macros, yaitu merekam rumus-rumus di excel, jadi ketika da pola yang sama bisa dilakuan dengan hanya satu klik saja.

Namun saya gagal mengerjakan itu, karena managernya minta sekaligus laporan dalam bentuk pdf. sekaligus minta dashboard yang bisa memvisualisasikan data gangguan.

Akhirnya saya membuat aplikasi web dari php, yang waktu itu saya sengaja dilama-lamain mengerjakannya, sebab diawal managernya sudah ngomong, jika yang ini beres nanti dikasih tugas lagi, ya saya gak mau.

Keluarga Baru

Meskipun mendapatkan kerjaan yang lumayan berat, namun saya merasa memiliki keluarga baru, mulai dari pembimbing, manager dan karyawan lainnya begitu perhatian kepada kepada saya.

Sampai pada akhir magang, saya di suruh menjadi karyawan harian lepas di Telkom, atau katanya langsung saja ngelamar di Telkom.

Bahkan setelah satu tahun berlalu, saya masih cukup intens berhungan dengan beliau-beliau ini, terkadang mereka mengajak untuk bertemu.

Soal kerja, sebagian orang atau teman-teman menganggap hal tersebut merupakan peluang yang bagus untuk berkarir di Telkom.

Tapi bagi saya sendiri, bekerja menjadi seorang karyawan adalah hal yang menjemukan dan membosankan.

Nah itu sedkit cerita mengenai magang di Telkom, semoga memberikan manfaat ya. Jika kalian ingin magang di Telkom Wilayah, langsung saja hubungi HR nya.

Show Comments

No Responses Yet

    Leave a Reply