Klasifikasi Tanah (USDA, UNESCO/FAO & PTT Bogor)

Klasifikasi Tanah – Mungkin bagi sebagian orang cukup asing dengan klasifikasi tanah ini, tapi bagi mereka yang menggeluti keilmuan pertanahan tentu bukan hal yang aneh. Sama halnya dengan batuan, tanah juga di klasifikasikan ke dalam beberapa bagian.

Nah pada artikel ini kita akan membahas klasifikasi tanah secara lengkap, mulai dari klasifikasi tanah itu sendiri, tujuan hingga sistem pengembangannya. Berikut pembahasan lengkapnya, yang khusus cakhasan sajikan untuk kalian.

Baca Juga : Mengenal 5 Lapisan Atmosfer

Klasifikasi Tanah

gunung dan pasir

gunung

Secara umum, tanah dapat di klasifikasikan ke dalam dua bagian, yaitu klasifikasi yang di dasarkan pada teknis dan alami.

Klasifikasi teknis disini artinya tanah di kelompokan berdasarkan kegunaannya secara khusus, sedangkan klasifikasi tanah secara alami berdasarkan sifat tanah tanpa dikaitkan dengan penggunaannya sama sekali.

Klasifikasi tanah memiliki berbagai macam pengembangan, baik yang dikembangkan oleh pakar atau ilmuan maupun oleh lembaga berkaitan.

Contoh klasifikasi tanah yang dikembangkan oleh para ilmuan, diantaranya adalah klasifikasi tanah yang dikembangkan oleh Rayes (2007), Hardijewogwno (2002), survey staff (2003) dan masih banyak contoh lainnya.

Sedangkan untuk peng-klasifikasian tanah di Indonesia sendiri dikembangkan oleh USDA (United States Departemen of Agriculture),FAO/UNESCO dan  Pusat Penelitian Tanah (PPT) Bogor.

Tujuan Klasifikasi Tanah

lahan pertanian

lahan pertanian

Berikut yang menjadi tujuan dari klasifikasi tanah, setidaknya terdapat 4 (empat) tujuan;

  • Mengelompokan, mengorganisasi serta menata tanah.
  • Mengetahui secara mendalam mengenai hungan individu tanah.
  • Memberikan kemudahan dalam mengingat sifat-sifat tanah.
  • DImanfaatkan untuk menaksir sifat, melakukan penelitian serta untuk mengetahui lahan yang baik.

Macam-Macam Sistem Klasifikasi Tanah

pegunungan

pegunungan

Sistem klasifikasi tanah dianggap baik apabila memenuhi hal-hal berikut ini;

  • Isogenus, artinya suatu tanah memiliki genesis yang sama.
  • Isomorf, artinya tanah yang memiliki kenampakan yang sama.
  • Isofungsi, artinya tanah yang memiliki fungsi sama dalam suatu lingkup.
  • Isotropik, artinya tanah yang memiliki lokasi sama.

Sedangkan sistem yang sangat umum sekali digunakan tedapat tiga, hal ini juga kiranya yang akan menjadi fokus pembahasan kita pada tulisan ini.

Klasifikasi Tanah USDA

klasifikasi tanah usda

USDA

USDA merupakan kependekan dari United States Departemen of Agriculture, yaitu sebuah lembaga atau departement pertanian Amerika Serikat. USDA menembangkan pengklasifikasian tanah yang dikenal dengan soil taxnomy. Dimana sistem ini menggunakan 6 (enam) kategori dalam pengelompokannya;

  • Ordo tanah (Order).
  • Sub-ordo tanah (Sub-order).
  • Kelompok tanah (Great group).
  • Sub-kelompok tanah (Sub-group).
  • Famili tanah.
  • Seri tanah.

Ordo Tanah

Ordo tanah dapat dibedakan atas dasar ada atau tidaknya horison penanda serta jenis dari penanda horison itu sendiri.

Contoh yang menunjukan ordo tanah, sebuah tanah dengan horison agrilik serta memiliki atau berkejunahan basa > 35% termasuk kategori ordo alfisol.

Kemudian ordo tanah dengan horison agrilik serta memiliki atau berkejuhan bahasa < 35% termasuk ke dalam kategori ordo ultisol.

Ultisol sendiri merupakan ordo tanah dengan horison agrilik serta berkejunahan basa < 35%. Kemudian untuk penamaan sub-ordonya biasanya menggunakan “ult” saja, yang menandakan kependekan dari ultisol.

Sub-ordo Tanah

Apabila ordo tanah di lihat berdasarkan ada tidaknya horison, sedangkan untuk sub-ordo ini yang menjadi alat ukur atu penanda ialah genetik tanah.

Sebagai contoh ialah ada tidaknya sifat-sifat tanah yang berhubungan dengan pengaruh vegetasi, air, batuan induk serta kelembapannya.

Sedangkan untuk pembeda sub-ordo untuk tanah ordo histosol atau tanah liat dilihat dari tingkat pelapukannya.

Pelapukan yang seperti apa?

Pelapukan dari bahan organik pembentuknya, seperti febris, himis dan safaris.

Sebagai contoh sub-ordo dari tanah ultisol yang senantiasa lembab, atau dalam artian tidak pernah kering, maka dinamakan udus.

Sub-ordo dari ultisol yang senantisa lembab sendiri ialah “udult” yang merupakan gabungan dari “ult” dan “ud”. Seperti yang kita ketahui “ult” adalah sub-ordo dari ultisol, sedangkan “ud” merupakan penanda atau ciri dari tanah yang selalu lembab, fragipant dan lain sebagainya.

Kelompok Tanah

Kelompok tanah atau dalam bahasa Inggrisnya Great Group ditentukan berdasarkan tingkat perkembangan tanah, regim suhu, susunan horison, jenis tanah, kelembapan, kejenunahan basa serta ciri lainnya.

Contoh dari sebuah nama pengelompokan tanah adalah “Fragiudult”, yang merupakan sebuah lapisan tanah yang rapuh.

Sub-kelompok Tanah

Sub-kelompok tanah sangat berkaitan erat sekali dengan kelompo tanah, dimana sub-kelompok ini diambil dari inti kelompok tanah, sifat-sifat tanah dalam peralihan kelompok lain, ordo lain, sub-ordo lain dan bukan tanah.

Contoh nama dari sub-kelompok tanah salah satunya ialah Aquic Fragiudult. Mengapa diberi nama demikian? Sebab Aquic berasal dari Aqualt dimana merupakan tanah yang senantiasa dipenuhi air, atau selalu berair.

Famili Tanah

Famili tanah berkaitan erat dengan sifat-sifat tanah itu sendiri, pertanian, susunan mineral, sebaran besar butir, serta suhu pada kedalamannya sebagai pembedanya. Contoh penamaan Famili yaitu Aquic Fragiudult, kaolinitik, isohipertermik, berliat halus.

Seri Tanah

Seri tanah dibedakan berdasarkan beberapa jenis, diantaranya susunan tekstur, struktur, warna, rekahan pada tiap horison, sifat mineral pada tiap horison, serta sifat kimia pada tanah.

Seri tanah sendiri ditetapkan pada mulanya dengan menggunakan nama lokasi sebagai ciri serit tanah tersebut. Sebagai contoh Aquic Fragiudilt.

Klasifikasi Tanah FAO/UNESCO

tabel sistem klasifikasi tanah

tabel sistem klasifkasi tanah

Tanah menurut FAO/UNESCO di kelompokan ke dalam beberapa bagian, setidaknya terdapat 23 (dua puluh tiga) kelompok tanah sebagai berikut.

  1. Tanah fluvisol merupakan sebuah tanah hasil dari endapan baru, bahan organik menurun serta tidak teratur.
  2. Gleysol adalah tanah dengan sifat hidromorfik artinya tanahnya dipengaruhi oleh air sehingga berwarna kelabu.
  3. Regasol adalah tanah yang hanya memiliki epipedon ochrik, serta memiliki sifat mengembang dan mengerut.
  4. Lithosol adalah kategori tanah dengan ketebalan hanya 10 cm atau bahkan kurang.
  5. Arenosol adalah tanah yang memiliki tekstur kasar yang terdiri dari bahan albk.
  6. Rendzina adalah suatu tanah yang terdapat di atas batuan kapur.
  7. Ranker merupakan tanah dengan epipedon ubrik serta memiliki tebal yang kurang dari 25 cm.
  8. Andosol adalah tanah dengan epipedon mollik atau umbrik.
  9. Vertisol adalah tanah yang memiliki kandungan liat setidaknya 30 %.
  10. Solonet adalah tanah yang memiliki horison natrik.
  11. Yermosol merupakan tanah yang ada di tempat dengan iklim sangat kering.
  12. Xerolsol adalah tanah yang mirip dengan yermosol, namun lebih sedikit berkembang.
  13. Kastanozem adalah tanah dengan epipedon mollik, memiliki warna coklat serta tebbal 15 cm atau lebih.
  14. Chernozem, tanah dengan ketebalan 15 centi meter serta epipedon mollik warna hitam.
  15. Phaeozem, tanah yang tdak memiliki horison dengan kandungan kapur halus.
  16. Greyzem, tanah yang memiliki ketebalan 15 cm dengan epipedon mollik warna hitam.
  17. Cambisol, tanah yang memiliki ketabalan 25 cm serta horison kambik.
  18. Luvisol, tanah dengan horison argillik dan mempunyai KB 50 % atau lebih.
  19. Podzoluvisol, tanah dengan horison agrilik.
  20. Podsol, tanah dengan horison spordik.
  21. Planosol, tanah dengan horison ablik.
  22. Acrisol, tanah dengan horison agrilik.
  23. Nitosol, tanah yang memiliki kandungan liat tdak kurang dar 20%.
  24. Ferrasol, tanah dengan horison oksik.
  25. Histosol. tanah dengan ketebalan 40 cennti meter lebih. Selain itu tanah ini berjenis epipedon histik.

Klasifikasi Tanah PPT Bogor

Sistem klasifikasi tanah yang digunakan oleh pusat penelitian tanah Bogor ialah sistem yang dikembangkan oleh Dudal Soepraptohardjo (1957). Sistem tersebut pada dasarnya memiliki kesamaan dengan sistem-sitem yang dikembangkan di Amerika Serikat.

Demikian pembahasan mengenai sistem klasifikasi tanah, semoga tulisan ini berguna serta bermanfaat. Jangan lewatkan tulisan sebelumnya mengenai manfaat tanah.

Termakasih.

Show Comments

No Responses Yet

    Leave a Reply