Gunung Cikuray : Cerita, Pengalaman Mendaki dan Tips

Gunung Cikuray – Sebelumnya aku belum pernah mendaki, bukan karena tidak suka, akan tetapi tidak cukup modal untuk membeli peralatan pendakian. Ditambah orang tua tidak pernah memberikan restu. Maklum usia saat itu masih 17 tahun.

Beberapa ajakan pendakian dari kawan – kawan selalu aku tolak. Meski sebenarnya dalam hati kecil sangat ingin memulai untuk mendaki, merasakan sendiri lelahnya pendakian, menikmati dan mensyukuri hidup yang telah Allah berikan.

Di usia yang ke 17 tahun, aku duduk di kelas tiga sekolah menengah atas (SMA). Banyak diantara teman SMA ku adalah seorang pendaki. Di sela – sela waktu istirahat, tidak jarang mereka berbincang seputar mendaki, mebincarakan hal – hal yang tak aku mengerti sama sekali semisal simaksis, summit, guiter dan lainnya.

Keinginan dan tekad masih tersimpan sempurna di dalam dada, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk mulai menjelajah.

Aku Ingin Mendaki

Masa SMA sebentar lagi akan berakhir, lagi kawan – kawan satu angkatan merencanakan pendakian. Bagi mereka pendakian yang akan dilakukan setelah lulus ini adalah pendakian kesekian kalinya.

Sebenarnya aku merasa iri kepada mereka, bisa mendaki dan melakukan perjalan sesuka hati. Akan tetapi di sisi lain, aku pikir larangan orang tua adalah bentuk kasih sayang mereka.

Semasa aku duduk bangku SMA, kedua orang tua memperlakukanku terlalu baik, terutama ibu. beliau selalu melarang jika aku ingin pergi ke kebun menemani bapak.

Aku di lahirkan di sebuah kampung yang letaknya berada di kaki gunung cikuray. sebenarnya semasa kecil banyak waktu kuhabiskan di kebun dan hutan. baik, untuk mencari musang ataupun hanya sekedar bermain.

Berdasarkan kabar burung atau cerita, sebenarnya ibuku sering mendaki gunung cikuray semasa ia remaja. Tapi waktu itu, aku tak pernah berani bertanya atau melawan ketika ibu tidak memberi izin untuk mendaki, palingan aku hanya bisa memasang muka muram selama beberapa jam.

Di sekolah aku ditanya oleh seorang teman “san kamu ikut gak ngedaki bareng nanti bulan juli?”. hatiku senang sekali rasanya mendengar ajakan itu, pikiranku langsung melayang – layang menjelah indahnya gunung cikuray. disaat pikiranku melayang jauh, suara sahabatku mengembalikanku ke alam nyata. lantas ia pergi tanpa kusadari.

Aku Gagal Kembali Mendaki

Perasaan senang yang ku rasakan tidak bertahan lama. saat ibu tidak memberiku izin, seperti biasa aku hanya bisa memasang muka muram.

Keesokan harinya di sekolah, seorang kawan menanyakan kembali keikut sertaanku dalam pendakian kelulusan. Seperti biasa jawaban yang terucap adalah tidak. Karena memang aku tidak memiliki jawaban lain selain kata tidak.

Di saat aku berkata tidak, sebenarnya hatiku menangis, akan tetapi disisi lain sebagai seorang anak aku harus patuh kepada orang tua, tanpa terkecuali.

Pendakian Pertama

Pasca lulus SMA orang tua telah memberikan kebebasan, tidak seperti semasa sekolah. Akhirnya peluang untuk memulai mendaki terbuka lebar karena sudah dipastikan ibu akan memberikan izin.

Pendakian pertamaku di mulai dengan gunung cikuray, gunung tertinggi di kabupaten garut. Pada bulan Juli Tahun 2013 kami ber-empat memutuskan untuk melakukan pendakian. melalui jalur yang tidak pernah di lewati pendaki alias jalur tidak resmi.

Gunung Cikuray

Tentang Gunung Cikuray

gunung cikuray

foto jelajahgarut.com

Seperti yang telah disinggung di atas, gunung cikuray merupakan gunung tertinggi kabupaten garut dengan ketinggian 2820 meter di atas permukaan laut (MDPL).

Berdasarkan informasi yang diperoleh gunung ini memiliki keindahan yang luar bisa. Pendaki di suguhi pemandangan di atas awan. Akan tetapi cikuray merupakan gunung dengan track yang terjal.

Jalur Pendakian

Terdapat 3 jalur pendakian di gunung cikuray yang dianggap resmi diantaranya jalur pemancar, bayongbong dan cikajang. untuk simaksis setiap jalurnya kisaran Rp.10.000 sampai dengan Rp. 20.000.

Masing – masing jalur memiliki keunikannya masing – masing. Seperti halnya jalur pemancar yang menyuguhkan pemandangan perkebunan teh, sedangkan untuk jalur bayongbong melewati hutan mati bekas kebakaran di pertengan perjalanan.

Jalur Pemancar

Jalur pemancar ini biasa disebut juga oleh sebagian orang jalur patrol. Sebab pintu masuk pertama yang di lewati setelah jalan raya adalah daerah patrol di kecamatan cilawu.

Pemancar atau patrol ini merupakan jalur yang paling terkenal dibandingkan dengan jalur yang lainnya. Untuk pengelolaannya sendiri di kelola secara resmi oleh perhutani.

Jalur Bayongbong

Bayongbong merupakan sebuah nama kecamatan di sebelah selatan pusat kota. jalur pendakian ini biasanya sangat di senangi oleh pendaki dari jakarta.

Apabila melewati jalur ini, pendaki tidak langsung akan memasuki hutan. akan tetapi terlebih dahulu melewati perkebunan atau ladang warga yang cukup jauh. Track yang disuguhkan pun tidak terlalu terjal, bahkan terbilang landai.

Persiapan Mendaki

Persiapan yang dilakukan untuk melakukan pendakian ini terbilang tergesa – gesa. Satu hari sebelum keberangkatan kami baru melakukan pertemuan, membahas segala hal yang sekiranya dibutuhkan. Lebih parahnya diantara kami berempat belum pernah ada yang mendaki.

Persiapan Peralatan

Peralatan yang dipersiapkan tidak begitu kumplit alias seadanya. lebih tepatnya waktu itu kami modal nekat karena ingin merasakan mendaki tanpa memperhatikan keselamtan serta kemungkinan yang akan terjadi di alam bebas sana.

Persipan Logistik

Untuk melakukan pendakian, tentunya logistik merupakan kebutuhan utama. Sebab jika logistik kurang maka pendaki akan kesulitan untuk bertahan.

Kami berempat mempersiapkan logistik seadanya tidak melakukan cek list hanya memanfaatkan uang seadanya tanpa melihat prioritas kebutuhan.

Apa yang dilakukan kami ini, sebenarnya terbilang gegabah. Sebab persipan akan menentukan segalanya. Tak ada pikir panjang, yang ada hanya ingin mendaki secepatnya.

Mendaki Jalur yang Salah

Pagi hari di bulan juli 2013 kami mulai mendaki, titik pertama keberangkatan adalah sebuah  kampung terpencil yang terletak di barat daya kecamatan cilawu. Sebuah kampung yang masih memegang erat kebiasan leluhur (adat istiadat).

Sempat ada rasa ragu yang terbersit, sebab jarang sekali pendaki yang menggunakan jalur ini. Beberapa waktu kami sempat merenung dan pada akhirnya kami memberanikan diri untuk memulai perjalanan.

Setelah melewati perkampungan warga yang berjejer ke atas, mirip desa konoha gakure desanya “naruto”. Selanjutnya kami harus melewati ladang pertanian yang terbentang luas berhektar – hektar.

Mulanya kami memperkirakan perjalanan selama 2 jam melewati ladang untuk sampai di hutan, pada nyatanya baru bisa sampai hutan setelah melakukan perjalan selama 4 jam lebih.

Babera kendala yang membuat perjalanan menjadi lebih lama, diantaranya adalah cuaca. Cuaca waktu itu terbilang terik, sehingga perjalanan sedikit menguras tenaga.

Kami sempat istirahat sejenak di sebuah makam kuno yang terawat. Berbincang lebih jauh seputar sejarah makan dengan seorang kuncen. 

Dari perbincangan yang kami lakukan dengan seorang kuncen. Aku bisa menyimpulkan ternyata banyak manusia kota bermain klenik.

Perjalanan kami lanjutkan, dengan menembus hutan yang cukup lebat disertai jalan yang hampir tak nampak. Kami berusaha meraba – raba jalan sebisa mungkin.

Terkena Badai

Semakin lama mendaki, hutan yang dilalui semakin lebat. Sama halnya dangannya jalan, semakin tinggi maka semakin curam.

Berjam – jam kami berjalan, puncak tak kunjung kami jumpai. Pikiranku dipenuhi dengan pertanyaan “kapan sampai?”

“Mengapa Begini?”

Beberapa menit kemudian, kami menemukan kembali harapan, dengan adanya bekas api unggun. waktu itu kami dapat menyimpulkan, bahwa ada orang yang ketempat tersebut sebelumnya.

Seorang teman diantara kami menyarankan untuk ngecamp di sekitaran bekas api unggun, terlihat dari raut muka, ia sudah sangat kelelahan. Aku merasa khawatir dengan kondisinya, kitapun berunding sejenak.

Kami melakukan perjalanan kembali, sebab dua orang dalam kelompok menginginkan untuk terus melakukan perjalan sampai puncak, apapun kondisinya. Akupun tidak ingin memperpanjang masalah, manut saja dengan keinginan mereka berdua.

Selang beberapa menit setelah kami melakukan perjalanan. Kami di kagetkan dengan adanya badai secara tiba – tiba, seketika tubuh kami basah kuyup. Pada awalnya kami menyangka badai hanya akan terjadi bebera menit saja. Sangkaan kami ternyata salah, sudah dua jam lamanya, tidak ada tanda – tanda bandai akan berhenti.

Sangat wajar jika kami ingin menyerah, karena memang rasa lelah telah menyusupi setiap bagian tubuh. Aku terus berdoa semampuku memanggil dan menyebut – nyebut nama pemilik semesta.

Dengan menggunakan sisa – sisa tenaga yang ada, kami terus berjalan, melangkahkan kaki sedikit demi sedikit dan saling menyemangati diantara kami.

Puncak

Hampir pukul enam sore kami tiba di puncak, tidak ada lagi tenaga yang tersisa bahkan hanya sekedar untuk membangun camp.

Seorang temanku yang memiliki kekuatan tubuh yang paling lemah, tiba – tiba terjatuh dan menggigil hebat. Ia tak lagi bisa di tanya. Belum usai ke khatiran terhadap teman kami, selanjutnya aku mengali mual – mual di sertai nyeri di sekujur tubuh.

Tak berselang beberapa menit kemudian, ada sekelompok pendaki yang menghampiri kami, kemudian membawa kami untuk masuk ketenda mereka, menolong serta merawat aku dan temanku sepanjang malam. Baru ku ketahui di kemudian hari yang ku alami adalah Hypotermia.

Malam hari terasa amat panjang, aku tidak bisa tidur sama sekali, ditemani gemuruh angin yang tak berhenti sampai pagi. Seakan mereka tak pernah lelah datang dan kembali.

Di pagi yang indah aku mulai pulih, melihat pegunungan berderet di sebelah utara, lalu di ikuti sekumpulan awan yang terbentang membentuk menjadi satu hamparan yang luas. Dan para pendaki menyebutnya samudera awan

Penutup

Saya bersama teman sangat berterimakasih kepada pendaki baik hati yang bersedia menolong kami, Allah telah kirimkan anak – anak pendaki SMP PERSIS untuk menyelamatkan kami.

Jangan pernah membuat kesalahan sekecil apapun dalam melakukan pendakian  karena taruhannya adalah nyawa.

Semoga tulisan yang tak beraturan ini bermanfaat dan menjadi sebuah pelajaran.

sampai tulisan ini dibuat saya telah mendaki gunung cikuray selama 6 kali

Salam Lestari..

Show Comments

No Responses Yet

    Leave a Reply