Akhirnya Bisa Pergi dengan Tenang dari Kampus

wisuda unsil, cakhasan, hasanudin

Tidak terasa waktu telah berlalu, empat tahun silam aku dilantik menjadi seorang mahasiswa (katanya), dan kini berakhirlah pula status mahasiswaku.

Perasaan bercampur, senang sudah bisa menuanaikan perintah orang tua, sedih belum bisa jadi apa-apa dan belum bisa bermanfaat, bahagia masih diberikan kesempatan melihat kedua orang tua tersenyum.

Terlihat jelas dalam raut wajah mereka bahagia yang tak terkira. Seakan segala pengorbanan mereka telah tergantikan dalam satu hari itu.

Lalu bagaimana dengan diriku?

Aku terus menerus menahan sesak di dada, penyesalan berdatangan tanpa diundang. Menyesal kenapa aku tidak menjadi mahasiswa terbaik? Menyesal kenapa tidak membangun usaha dari semenjak semester satu? Menyesal mengapa tidak menjadi lebih baik dari dulu?

Jika dihitung-hitung, ah banyak sekali penyesalan kiranya.

Kemudian dalam kondisi seperti itupun ibuk masih terus menguatkan, “Kapan berangkat kepondok lagi?, semoga sukses disana ya, kalau butuh uang ngomong saja, tak perlu sungkan”.

Itulah sedikit kisah yang mengharukan bagiku saat wisuda.


Dalam tulisan ini aku ingin bercerita tentang wisudaku beberapa hari yang lalu. Jangan tanyakan kembali perasaannya seperti apa, sebab sudah jelas perasaanku seperti pada tulisan di atas.

Bagiku wisuda adalah sesuatu hal yang tidak penting, bahkan jauh-jauh hari sebelum wisuda, aku berencana tidak mengikuti acara tersebut.

Ditambah pada waktu itu telah pindah kota, kebetulan selepas lulus kuliah aku langsung pergi meninggalkan kampus untuk belajar di Magetan, Jawa Timur.

Perjalanan Tasikmalaya-Magetan lumayan jauh, sekitar 8-9 jam.

Tentu saja alasan tidak ikut wisuda cukup rasional. Pertama, aku takut ketinggalan pelajaran di pondok. Kedua, Jarak yang lumayan jauh. Ketiga, harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit.

Namun tentu tidak setiap yang masuk akal bisa diterima oleh hati.

Samahalnya dengan wisudaku ini.

Jika menurut akal, tidak ikut wisuda ya tidak apa-apa.

Namun menurut hati berbeda, bagaimana dengan perasaan ibuk dan bapak?

Ya akhirnya tidak ada pilihan lain kecuali ikut wisuda.


Selepas aku memasuki gedung wisuda, pikiranku langsung mengawang-ngawang entah kemana.

Tak terlewat pikiranku menengok anggapanku tentang kampus.

Bagiku kuliah tak ubahnya seperti permainan, dari awal sudah terlalu kesal dan jengkel dengan pendidikan di negeri ini, aku kira pantas ketika sudah bekerja banyak bermunculan generasi koruptor, karena memang diajarkan di kampus.

Rasanya tidak pernah aku di didik untuk menjadi manusia di bangku kuliah, yang ada hanya di ajari bagaimana untuk kompeten dan bisa bekerja diperusahan terbaik pasca lulus. Akhirnya banyak mahasiswa yang menghalalkan segala cara demi tinta emas di secarik kertas.


Bahkan seakan-akan para dosen telah lupa bagaimana caranya mereka mendidik, memanusiakan manusia, yang mereka pikirkan bagaimana mereka dapat menerbitkan karya ilmiah sebanyak mugnkin.

Sebaliknya para mahasiswa, semakin hari semakin lupa tujuan mereka disekolahkan, bahkan telah hilang adab mereka dalam menuntut ilmu.


Waktu itu masih di dalam ruangan kedung wisuda,

Kami dilantik menjadi seorang sarjana, kemudian dibacakan janji-janji sebagai lulusan, yang aku anggap sampai saat ini itu adalah janji palsu.

Sebab banyak diantara mereka yang tidak tahu nasib pasca wisuda akan seperti apa dan bagaimana?

Bahkan yang sangat dikhawaatirkan mereka tidak tahu mereka ingin kemana.

Jelas sangat sayang sekali, jika selama kuliah hanya duduk manis dikursi menyimak ceramah mereka yang katanya dosen.

Padahal nyatanya tidak memberikan apa-apa.

Jika sudah seperti ini, siapa yang harus disalahkan?

Mungkin aku sendiri, mengapa aku mau dikuliahkan.

 

02 Desember 2018, Magetan-Jawa Timur

 

 

Show Comments

No Responses Yet

    Leave a Reply